Pengembangan Poltekkes Kemenkes Aceh ke depan difokuskan pada 6 (enam)  pilar utama;

Pertama, Peningkatan pencapaian Indikator Kinerja Utama Poltekkes Kemenkes Aceh di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Dengan modal ini ditargetkan Poltekkes Kemenkes Aceh memiliki daya saing tinggi dan berkompetisi secara sehat dengan Poltekkes lainnya. Upaya ke arah itu perlu dilakukan secara lebih progresif melalui upaya-upaya kondusif dan stimulatif. Pengembangan riset baik berupa Risbinakes atau riset hibah oleh Diknas dengan kerjasama yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar selanjutnya dapat meningkatkan mutu proses belajar mengajar (PBM), mendorong partisipasi mahasiswa dan dosen dalam berbagai paket riset dan pengabdian kepada masyarakat yang mempercepat laju lulusan (annual graduates), publikasi ilmiah, paten, dan produk riset komersial. Peningkatan laju lulusan, publikasi riset, dan perolehan paten menjadi pembangkit citra publik yang memperbesar peluang komersialisasi produk riset ke masyarakat luas yang berimplikasi balik pada peningkatan kepercayaan publik serta pengembangan usaha-usaha komersial. Perbaikan kepercayaan publik akan memperbesar berbagai hubungan kemitraan baik dengan sektor swasta maupun pemerintah yang menjadi kekuatan riset kolaboratif dan konsorsium. Peningkatan produk riset komersial akan menguatkan usaha-usaha komersial dan memperbaiki pendapatan institusi. Pendapatan yang sehat berkelanjutan ini menjadi pemacu kesejahteraan pegawai dan dosen, pemasok sarana/prasarana riset serta insentif riset yang diharapkan meningkatkan minat dan budaya, serta pelaku riset yang bermutu sehingga menopang siklus pengembangan proposal riset unggulan secara berkelanjutan.

Kedua, Peningkatan dan pemberdayaan sumber daya manusia. WHO telah mengisyaratkan bahwa selain pembiayaan, indikator keberhasilan pembangunan kesehatan 80% ditentukan oleh Sumber Daya Manusia ( SDM ) kesehatan itu sendiri. Poltekkes Kemenkes Aceh  sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) kementerian Kesehatan, mempunyai tugas pokok melaksanakan pendidikan vokasi dalam bidang kesehatan pada jenjang D.III dan/atau D.IV/S1 terapan/sarjana sain terapan, dituntut menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dunia kerja, profesi, dan pengembangan kepribadian dengan tetap memperhatikan kearifan lokal.

Pola peningkatan dan pemberdayaan SDM ( tenaga pendidik dan tenaga kependidikan )  pada Poltekkes Aceh didesain dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan atau bahkan melampaui standar minimal mutu nasional, dengan prioritas pemenuhan jumlah dan peningkatan kompetensi dosen. Peningkatan kompetensi dosen dilakukan melalui : 1) Pendidikan ( tugas belajar dan izin belajar) dan Pelatihan, 2) Penelitian yang bermutu dan terakreditasi, dan  3) Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat yang aplikatif dengan mengedepankan produk akhir yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Peningkatan

Disamping itu, kondisi tenaga pendidik ( dosen ) pada Poltekkes Kemenkes Aceh saat masih heterogen baik kualifikasi akademik maupun kompetensinya. Menyikapi kesenjangan tersebut, diperlukan adanya strategi kebijakan dalam perencanaan dan penataan yang tepat sehingga sesuai dengan amanat undang-undang. Peningkatan SDM dosen akan difocuskan pada peningkatan strata pendidikan dosen magister ke doktoral  dan  strata pendidikan D.IV/S1 ke magister yang inline.

Ketiga, Peningkatan pengadaan sarana dan prasarana. Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang tugas pokok dan fungsi organisasi difocuskan pada pengadaan alat peraga dan alat laboratorium kesehatan, Pengadaan Buku Perpustakaan, pembangunan 1 unit gedung RKB Prodi Diploma IV, pembangunan gedung Laboratorium Multiguna (Lab Skill Uji Kompetensi/PPK dan Lab CBT), Pembangunan Laboratorium Kimia dan Perencanaannya,  pembangunan gedung Jurusan Kebidanan, pembangunan gedung Pusat Akademik dan Kemahasiswaan (Auditorium Serba Guna), pembangunan 1 unit gedung RKB pada Prodi Keperawatan/Kebidanan di Langsa, renovasi gedung RKB Prodi Keperawatan/Kebidanan di Meulaboh, peningkatan kapasitas daya listrik dari Tegangan Rendah (TR) 200 A menjadi Tegangan Menengah (TM) 500 A  dan penanaman Jaringan Kabel Listrik Bawah Tanah, Pembuatan Saluran Pembuangan Air Kotor dan Perencanaannya, pengadaan kursi/meja kuliah set untuk gedung RKB baru, Pengembangan Server Poltekkes Kemenkes Aceh,  pengembangan Sistem Informasi Akademik (SIA), Pembelian Kendaraan Roda 4 untuk Prodi Kebidanan Meulaboh dan Langsa, prodi D.IV dan III Keperawatan Banda Aceh, Prodi D.III dan D.IV Keperawatan Gigi, Prodi D.III dan D.IV Kesehatan Lingkungan, dan Prodi D.III dan D.IV gizi. DED Landcape Terpadu, Pengadaan Alat Fasilitas Perkantoran, dan Pengadaan Alat Fasilitas Pembelajaran.

Keempat, Meningkatnya kualitas melalui pengembangan, Norma , Standar, Pedoman, Kriteria (NSPK) sistem kualitas dan peningkatan kualitas, Kelima, membangun Keunggulan Poltekkes dalam era kompetisi  kedalam beberapa kelompok berikut ini:

  • Mengembangkan hubungan baik dengan customers. Untuk Poltekkes yang menjadi customers itu amat kompleks dari mahasiswa, orang tua, bisnis dan industri lembaga pendidikan persekolahan, sehingga mereka merasa terikat secara emosional. Customers satisfaction menjadi tujuan utama, sebab bila satisfaction tercipta, keterikatan emosional dalam hal ini loyalty, secara bertahap dapat berkembang.
  • Menciptakan trust and confidence dikalangan berbagai kelompok stakeholders yang amat luas dan kompleks itu. Luasnya stakeholder ini karena pendidikan termasuk pendidikan tinggi merupakan hak setiap orang sesuai dengan deklarasi dunia bahwa pendidikan itu hak setiap orang.
  • Membangun competitive advantage centers untuk pusat keunggulan ini bila dapat diwujudkan akan merupakan point of promotion yang menarik.
  • Membangun kerjasama, kemitraan dan networking.

Keenam, membangun kapasitas institusi dan managemen perguruan tinggi yang sehat. Pengembangan dilaksanakan melalui penyehatan  sistem managemen  yang akan membangun kepercayaan para stakeholders/user.